Tentang Bapak [Part 1]


Ini adalah tulisanku di pertengahan tahun 2016 yang sengaja aku republished dari blog lamaku. Mungkin beberapa anak banyak yang merasa kurang bersyukur dengan kondisi keluarga yang mereka miliki. Sehingga mereka kurang memberikan banyak waktu yang dimilikinya untuk dihabiskan bersama dengan keluarganya. Melalui tulisan ini, aku juga ingin memberikan sudut pandang lain dari anak yang terlahir di keluarga yang tidak utuh. Semoga bisa mengambil hikmah dan sisi positifnya ya..

Malam itu aku diajak nonton bareng film Sabtu Bersama Bapak. Film yang diangkat dari novel karya Adhitya Mulya ini bercerita tentang sebuah keluarga kecil, Bapak, Mama, dan 2 anak lelaki. Karena Si Bapak sakit dan tidak ingin anak-anaknya merasa kehilangan akan sosoknya, dia pun merekam beberapa pesan kehidupan untuk istri dan anak-anaknya. Dan dia berpesan, rekaman tersebut hanya boleh dilihat di Hari Sabtu.

Mulai awal film ini menampilkan ceritanya, banyak perasaan sedih dan iri yang muncul di dalam hatiku. Bagaimana tidak merasakan sedih dan iri jika selama 20 tahun lebih menjalani hidup, aku tidak punya memori apapun tentang sosok Bapak. Sedangkan Satya dan Saka masih memiliki memori tentang Bapaknya sampai mereka menikah dan berkeluarga.

Baca juga : Ketika Celaan Fisik Dianggap Normal

Aku, yang sedari bayi belum genap setahun sudah ditinggalkan Bapak pergi untuk bertemu dengan Sang Pencipta, ingin sekali saja bisa melihat raut wajah Bapak, mendengar suaranya, memeluk tubuhnya erat-erat dan merasakan belaian kasih sayangnya di kepalaku sambil berkata semua akan baik-baik saja. Tapi aku tahu jika itu hanyalah angan-angan yang tidak mungkin terwujud di dunia ini, karena Bapak sudah pergi terlebih dulu.

Perasaan sedih berikutnya muncul ketika scene Saka mengetahui Mamanya sedang dirawat di rumah sakit dan dia bergegas ke rumah sakit untuk menemui Mamanya. Saat itu tiba-tiba aku teringat ketika mendapatkan kabar di telepon kalau Mamaku masuk ke rumah sakit dan tidak sadar aku meneteskan air mata.

Baca juga : Menjadi Teman yang Menyenangkan Setelah Berhijrah

Aku teringat rasa sedih dan takut ditinggalkan sosok yang sangat berjasa membesarkan aku seorang diri dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Aku belum siap jika Sang Pencipta memanggil Mamaku pada waktu itu, hingga saat ini pun masih sama. Karena aku merasa masih belum bisa memenuhi keinginan Mama serta masih suka beradu argumen dengan Mama. 

Bersyukurlah kalian yang masih memiliki orang tua yang lengkap, atau pernah memiliki orang tua yang lengkap, namun sekarang tinggal salah satunya. Setidaknya kalian masih punya memori tentang orang tua kalian jika dibandingkan denganku. Di duniaku, Bapak hanya sekedar bingkaian masa lalu dalam sebuah foto.

Comments