Pentingnya Persiapan Mental Dan Psikologi



Seberapa penting sih persiapan mental dan psikologi sebelum menjalani kerhidupan berumah tangga? Pernah nggak kalian melihat, mendapatkan cerita dari orang lain atau membaca berita tentang kekerasan dalam rumah tangga? Kenapa hal itu bisa terjadi di dalam sebuah rumah tangga? Padahal ketika memulai kehidupan berumah tangga, suami dan istri tersebut penuh dengan kasih sayang.

Itu hanya serpihan gambaran untuk menunjukkan seberapa pentingnya persiapan mental dan psikologi sebelum menikah. Karena jika kita tidak benar-benar menyiapkan mental, kita akan mudah terombang-ambing dalam menjalaninya.

Baca juga : Persiapan untuk Ibadah Terlama

Menurut buku Psikologi Pernikahan yang ditulis Muhammad Iqbal Ph.d, ada banyak manfaat yang diperoleh ketika kita menikah. Seperti meningkatkan keimanan, memiliki keturunan, memperoleh dukungan sosial, serta memperoleh ketentraman dan kesejahteraan. Sama dengan do’a yang selalu diucapkan ketika kita mendatangi pernikahan sahabat atau kerabat kita, yaitu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Dalam bahasa Arab, sakinah berarti kedamaian, ketenangan, ketentraman, dan kemanan. Mawaddah memiliki arti kasih sayang dan cinta, sedangkan rahmah berarti ampunan, rahmat, rezeki dan karunia. Dan pastinya setiap individu juga ingin memiliki keluarga yang di dalamnya kita bisa merasakan damai, tenang, penuh kasih sayang, dan mendapat rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun, hal itu mungkin tidak dapat terwujud jika kita tidak mempersiapkan mental dan psikologi diri kita sebelum menikah. Karena persiapan mental ini tidak hanya berguna dalam menghadapi pasangan kita nantinya. Tetapi juga akan sangat membantu dalam menghadapi orang tua dan keluarga pasangan kita, orang tua kita sendiri serta anak-anak kita nantinya.

Baca juga : Siapkan Ilmunya Dulu

Jangan sampai akibat kita mengabaikan persiapan mental dan psikologi ini, ada penyesalan yang muncul di kemudian hari. Misalnya ternyata kita baru tahu kalau pasangan kita gampang curiga dan over protective, atau mungkin dia tidak suka tidur pakai selimut. Nah, kalau kita sudah mempersiapkan mental kita jauh sebelum kita melangkah menuju pernikahan, inshaa Allah kita bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Sehingga akan jarang muncul pertengkaran dalam rumah tangga hanya karena hal sepele.

Karena sebenarnya persiapan mental dan psikologi ini lebih pada bagaimana kita belajar untuk memposisikan diri kita dalam berbagai peristiwa yang akan terjadi saat berumah tangga. Seperti belajar menjadi suami atau istri yang bisa saling melengkapi kekurangan pasangannya, terus belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak, dan sebagainya.

Selain itu, persiapan mental dan psikologi ini juga bisa kita gunakan untuk memilih calon pasangan hidup yang sesuai dengan visi pernikahan kita. Jangan sampai karena kita sudah ingin sekali menikah, kita jadi tutup mata terhadap pertanda-pertanda yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita. Sehingga ketika ijab sudah diucapkan, mungkin akan banyak masalah yang dihadapi nantinya.

Comments